Bobby (1992)
mengatakan bahwa agar efektif, belajar dapat dan harus menyenangkan. Terdapat
tiga kombinasi unsur yakni keterampilan akademis, tantangan fisik, dan
keterampilan hidup, yang merupakan perkembangan dari suatu falsafah bahwa
belajar dapat dan harus menyenangkan. Belajar adalah kegiatan seumur hidup yang
dapat dilakukan dengan menyenangkan dan berhasil. Menurut Dr. Georgi Lozanov,
seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang
disebutnya sebagai “Suggestology” atau
“suggestopedia”. Prinsipnya adalah
bahwa sugesti dapat dan pasti
mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti
positif maupun negatif.
Beberapa
teknik yang digunakan dari suggestology
tersebut untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukkan murid secara
nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu,
menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar sambil menonjolkan
informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni pengajaran
sugestif. Hal ini bisa menjadi poin penting yang harus diperhatikan sebagai salah
satu kiat untuk meningkatkan efektifitas dalam kegiatan belajar para remaja dan
pelajar. Karena teknik-teknik ini tergolong hal yang mudah untuk dilakukan.
Istilah lain
yang hampir dapat dipertukarkan dengan suggestology
adalah accelerated learning atau
pemercepatan belajar. Pemercepatan belajar ini didefinisikan sebagai hal yang
memungkinkan para pelajar dan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang
mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan. Cara ini
menyatukan unsur-unsur yang secara sekilas tampak tidak mempunyai persamaan:
hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik, dan
kesehatan emosional. Namun, semua unsur ini bekerja sama untuk menghasilkan
pengalaman belajar yang efektif.
Untuk
mengetahui cara belajar yang efektif baik bagi siswa, pelajar, dan siapapun
yang ingin belajar, maka disebutkan secara rinci unsur-unsur yang menyebabkan
belajar menjadi lebih efektif, dengan menggunakan suatu metode Quantum Learning. Quantum Learning adalah seperangkat metode dan falsafah belajar
yang terbukti efektif untuk seumur hidup (2001: 15). Metode dan falsafah ini
terdiri dari berbgai macam unsur dan faktor yang bisa meningkatkan efektifitas
dalam belajar dan menemukan cara terbaik belajar bagi siswa, remaja, dan
pelajar. Diantaranya unsur lingkungan yang terdiri dari elemen lingkungan positif,
terobosan-terobosan fisik, dan suasana. Kemudian unsur nilai-nilai dan
keyakinan terdiri dari elemen interaksi, metode, dan belajar untuk mempelajari
keterampilan. Semua unsur dan elemen yang ada di dalam Quantum Learning saling berkaitan, karena merupakan faktor
penunjang keberhasilan dari usaha untuk mengefektifkan kegiatan pembelajaran.
Setelah
mengetahui cara belajar dan bagaimana
mengefektifkannya, maka untuk menuju sebuah kesuksesan harus ditunjang dengan
kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan setiap harinya. Kebiasaan-kebiasaan ini
memili kekuatan yang dapat merubah hidup kita menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Kebiasaan-kebiasaan ini harus dilakukan secara berkelanjutan.
Dengan mengetahui kekuatan dan makna apa yang terkandung di dalam kebiasaan yang
kita lakukan, maka kita akan melakukan kebiasaan tersebut dengan senang hati,
suka rela, dan tulus. Kita harus mengetahui, apa saja kebiasaan yang menurut
kita buruk maka kita tinggalkan kebiasaan tersebut, dan kebiasaan apa saja yang
menurut kita baik, maka dilanjutkan dan ditingkatkan. Dengan mengetahui hal
tersebut, dapat memudahkan kita menyortir kegiatan kita, seperti dengan membuat
sebuah catatan kegiatan yang bisa mengingatkan kita kepada hal yang harus
dilakukan dan yang tidak harus dilakukan. Meskipun, otak tidak bisa tahu mana
kebiasaan jelek dan mana yang baik, sehingga bila kita mempunyai kebiasaan
jelek, kebiasaan itu selalu mengintai. Setidaknya, kita memiliki upaya dan
kesadaran tentang kebiasaan kita.
Menurut
Charles (2012), kebiasaan bisa dirubah,
bila kita paham bagaimana ia bekerja. Mengubah kebiasaan tidak selalu mudah
atau butuh waktu singkat. Hal itu tidak selalu sederhana. Artinya, dalam
merubah kebiasaan membutuhkan waktu dan tidak instan. Definisi kebiasaan adalah
pilihan-pilihan yang kita semua telah buat secara sengaja pada suatu saat, dan
yang kita tak lagi pikirkan namun terus dilakukan, seringkali setiap hari.
Kebiasaan, muncul karena otak terus-menerus mencari cara untuk menghemat upaya.
Bila dibiarkan saja, otak akan mencoba menjadikan nyaris setiap rutinitas suatu
kebiasaan, sebab kebiasaan memungkinkan benak kita lebih sering bersantai.
Menurut penelitian dan temuan
Squire pada Eugene: kebiasaan sungguh kuat, namun rapuh. Kebiasaan bisa muncul
di luar kesadaran kita, atau dengan sengaja dirancang. Kebiasaan seringkali
terjadi tanpa izin kita, namun bisa dibentuk ulang dengan mengutak-atik bagiannya.
Pengaruh kebiasaan dalam membentuk kehidupan kita jauh lebih besar daripada yang
kita sadari, bahkan kebiasaan sedemikian kuat sampai-sampai otak kita terus
bergantung kepada kebiasaan tanpa mempedulikan segala sesuatu yang lain,
termasuk akal sehat.
Setelah
mengetahui kekuatan dalam kebiasaan, maka terdapat kebiasaan-kebiasaan yang
bisa dilakukan untuk menunjang keefektifan belajar dan menjadikan segala mimpi
yang kita tuliskan tidak hanya sekadar tulisan, tetapi membuatnya menjadi
kenyataan. Kebiasaan-kebiasaan itu dianataranya adalah menjadi proaktif,
mengingat tujuan akhir, mendahulukan yang utama, berpikir menang, berusaha
memahami baru dipahami, mewujudkan sinergi, mengasah gergaji (1998: 26).
Kebiasaan-kebiasaan tersebut terdiri dari beberapa unsur, yakni menyangkut
penguasaan diri atau biasa disebut kemenangan pribadi, kemudian menyangkut
hubungan-hubungan serta kerja sama atau biasa disebut kemenangan publik. Kita
harus dapat menguasai diri sebelum menjadi pemain tim yang baik, itulah sebabnya,
kemenangan pribadi mendahului kemenangan publik. Kemudian unsur kebiasaan
pembaharuan, yang menguatkan kebiasaan yang lainnya.
Menurut Metode Quantum Learning (Bobby, 1992), untuk belajar yang efektif membutuhkan beberapa gabungan unsur yang saling terkait satu sama lain. Diantaranya lingkungan: lingkungan positif, aman, mendukung, santai, penjelajahan, menggembirakan.
Menurut Metode Quantum Learning (Bobby, 1992), untuk belajar yang efektif membutuhkan beberapa gabungan unsur yang saling terkait satu sama lain. Diantaranya lingkungan: lingkungan positif, aman, mendukung, santai, penjelajahan, menggembirakan.
Cara belajar
efektif yang pertama adalah memperhatikan lingkungan kita sebagai pelajar dan
siswa. Ketika akan memulai belajar, kita perhatikan terelebih dahulu lingkungan
sekitar kita, apakah sudah memenuhi syarat lingkungan yang baik atau tidak.
Pentingnya memilih lingkungan ini akan berdampak pada kualitas belajar yang
akan terjadi, sebab lingkungan yang aman dan positif akan menciptakan kegiatan
pembelajaran yang aman pula, karena dianatara lingkungan dan cara belajar
terjadi suatu timbal balik yang menguntungkan.
Begitu pula
jika lingkungan sekitar santai dan menggembirakan, maka ketika belajar
akan terhindar dari tekanan, dan merasa nyaman ketika belajar, sehingga
kegiatan belajar akan sangat mengasyikkan dan menjadi candu bagi para pelajar.
Belajar pun bukan menjadi sebuah beban lagi jika lingkungan sangat mendukung
untuk kegiatan belajar. Hal ini menciptakan mood
yang baik untuk pelajar, dimulai dari hal yang terkecil yaitu lingkungan.
Selain
lingkungan, unsur lainnya disebutkan dalam Metode Quantum Learning (Bobby, 1992), yakni dari segi fisik: gerakan,
terobosan, perubahan keadaan, permainan-permainan, fisiologi, estafet (hands on), dan partisipasi.
Tantangan-tantangan fisik ini digunakan sebagai metafora untuk mempelajari
terobosan-terobosan belajar, dan menciptakan pergeseran paradigma yang mengubah
pemahaman tentang belajar. Di sekolah,
terobosan-terobosan fisik ini dapat dilakukan seperti kegiatan outbond yang terdiri dari kegiatan-kegiatan fisik. Seperti pelajaran tali-temali
yang digunakan para siswa untuk memanjat pohon-pohon tinggi. Berjalan di atas
tali yang dipasang setinggi empat puluh kaki di atas tanah, melompat dari papan
kecil ke atas galah untuk meraih palang, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan
fisik ini dapat menumbuhkan rasa kebersamaan siswa bersama rekan-rekannya,
menumbuhkan kerjasama, dan membuat suasana hati menjadi riang.
Pembelajaran melalui
gerakan fisik juga ternyata sangatlah penting dan sangat bermanfaat bagi diri
seorang siswa. Karena disamping kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas terkesan akan membosankan, sehingga dibuatlah
kegiatan diluar ruang kelas untuk meningkatkan kemampuan selain akademis. Terobosan
fisik lainnya misalnya kekuatan berjalan, suatu olahraga yang sangat
menegangkan, dan mematahkan papan, di mana para siswa memukul papan setebal
satu inci dengan tangan kosong. Semua kegiatan ini dimaksudkan untuk mematahkan
mitos “Aku tak bisa” yang membuat orang mundur dalam kehidupannya. Kegiatan
fisik ini dapat meningkatkan pemikiran dan sugesti siswa bahwa belajar tidak
harus selalu duduk di kelas.
Kemudian dari
unsur suasana dalam belajar harus tercipta suasana belajar yang nyaman, cukup
penerangan, enak dipandang, dan terdapat musik di dalamnya (Bobby, 1992). Unsur
suasana menjadi sangat penting dalam kegiatan belajar karena dengan suasana
yang nyaman dapat meningkatkan konsentrasi dalam belajar, ditunjang dengan
pencahayaan ruangan yang baik karena jika pencahayaan dalam ruangan belajar
tidak sesuai akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam bekerja dan berpikir,
kemudian tata pentas ruangan belajar yang indah dilihat misalnya kita bisa
menambahkan foto yang membuat kita semangat dalam belajar ataupun menempelkan
kata-kata mutiara sebagai pengingat, serta memunculkan musik di sela-sela
kegiatan belajar dapat memicu kinerja otak menjadi lebih baik dan meningkatkan
kreativitas dari siswa. Musik yang diperdengarkan adalah musik klasik yang
berjenis barok, sehingga dapat melancarkan aliran darah dan membuat otak
menjadi rileks.
Kemudian unsur
metode pembelajaran, harus mencakup metode seperti mencontoh, permainan,
simulasi, dan simbol-simbol pembelajaran. Hal ini bisa dilakukan oleh seorang
tenaga pengajar kepada muridnya, sehingga dalam kegiatan pembelajaran tercipta
suatu variasi belajar, dengan cara aplikasi percontohan dalam suatu bidang ilmu
tertentu. Kemudian menggunakan permainan, sehingga siswa dapat memetik nilai
yang berharga dan falsafah yang ada di permainan tersebut terkait dengan
pembelajaran baik akademis maupun non akademis. Kemudian menggunakan simulasi,
sebagai perwujudan dari aplikasi percontohan, sehingga murid mengetahui wujud
nyata dari hal yang dipelajarinya. Dan unsur simbol dapat digunakan untuk
memudahkan siswa ketika mempelajari sesuatu dan mengingatnya berdasarkan
simbol-simbol yang diberikan.
Kemudian dari
unsur belajar untuk mempelajari keterampilan, terdiri dari elemen pendukung nya
yaitu menghafal. Menghafal sesuatu dengan menggunakan beberapa metode yang
efektif seperti dengan teknik asosiasi, sistem cantol yang mencocokkan dengan
kata-kata berirama atau petunjuk-petunjuk visual dan hubungan bunyi antara
masing-masing angka dan kata yang bersesuaian, kemudian metode lokasi yang
menggunakan tempat yang plaing dikenal dan berkesan, sehingga mudah diingat,
kemudian menggunakan akronim dan kalimat-kalimat kreatif yang digunakan untuk
menghafal nama-nama yang berurutan.
Kemudian
elemen berikutnya adalah membaca. Membaca dengan efektif dapat meningkatkan
kualitas belajar, dengan membaca cepat serta mengetahui kiat-kiat untuk membaca
yang efektif, kita-kiat memahami materi yang ada dalam bacaan, dan mengetahui
beragam kecepatan membaca. Dalam membaca pun terdapat teknik-teknik membalik
halaman, yang dapat meningkatkan fokus ketika membaca.
Elemen berikutnya adalah
menulis. Dalam kegiatan pembelajaran dipastikan akan selalu ada kegiatan
menulis, karena dengan menulis secara tidak langsung akan membuat kita kembali
mengingat segala yang telah kita baca dan menuangkannya dalam bentuk tulisan,
kemudian menggunakan bahasa dan kata-kata daridiri sendiri. Dalam menulis pun
terdapat beberapa teknik nya yaitu pengelompokkan memilah gagasan-gagasan dan
menuangkannya ke atas kertas secepatnya, tanpa
pertimbangan. Kemudian menggunakan metode fastwriting
yang digunakan untuk mengatasi hambatan-hambatan masalah lembaran yang
kosong. Elemen ini berkaitan dengan elemen mencatat sehingga tidak dapat
dipisahkan.
Elemen
berikutnya adalah kreativitas yakni berpikir dan bersikap kreatif, bagaimana
memupuknya dan meningkatkannya sehingga dalam mengerjakan sesuatu tidak
monoton. Kemudian menemukan cara belajar, yang terdiri dari visual, auditorial,
dan kinestetik. Kemudian bagaimana kemampuan komunikasi harus dilatih dan
dipupuk sejak dini agar menjadi percaya diri.
Setelah
mengetahui beberapa cara jitu untuk cara belajar yang efektif, maka harus ada
sebuah penunjang dalam kehidupan siswa, pelajar, maupun remaja. Yang pertama
adalah bersikap proaktif dimaksudkan agar sebagai remaja harus bertanggung
jawab terhadap hidupnya sendiri dan tidak mengabaikan kewajibannya. Kemudian
mendefiniskan misi dan sasaran hidup, hal ini sangat penting karena di masa
remaja adalah masa untuk meniti harapan dan mimpi, sehingga kita memiliki
tujuan yang akan dicapai. Kemudian menyusun prioritas dan mendahulukan hal-hal
yang penting, sangatlah berpengaruh kepada kehidupan karena jika mendahulukan
hal yang tidak penting maka waktu yang kita miliki akan terbuang secara
percuma. Dan waktu tidak akan kembali lagi seperti sedia kala, dan waktu itu
adalah hal yang sangat berharga.
Kemudian,
bersikaplah agar semua orang bisa menang, sehingga dapat meningkatkan rasa
kompetitif sehingga berkompetisi secara sehat. Kemudian jadilah pendengar yang
baik dan tulus, karena untuk menjadi teman yang baik harus menjadi pendengar
yang baik, apapun dan siapapun, dengarkanlah dan ambil sisi positif dari apa
yang dibicarkan, sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita. Karena
dengan menjadi pendengar yang baik, maka kita termasuk pencerna yang baik pula.
Kemudian bekerjasamalah
agar mencapai hasil yang lebih baik. Dalam kehidupan pasti membutuhkan sinergi
dan kerjasama untuk mencapai tujuan yang ingin diraih. Karena dengan bekerja
sama dan mewujudkan sinergi, hasil yang didapatkan akan lebih baik. Sebab,
beban pemikiran bukan hanya pada satu pemikiran, namun menyatukan beberapa
pemikiran menjadi suatu gagasan dan kontribusi nyata. Kemudian
memperbaiki diri secara berkala agar dapat menilai dan mengintropeksi diri
sendiri, kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sebagai acuan untuk menjadi
lebih baik lagi dari sebelumnya, sehingga menjadi manusia yang terukur kadar
filosofi hidupnya.
KESIMPULAN
Dengan mengetahui cara belajar yang efektif, maka akan meningkatkan
prestasi belajar seseorang dan dapat meraih kesuksesan diri. Karena kegiatan
belajar yang dilakukan efektif dalam segi kualitas dan kuantias. Dengan
ditunjang beberapa kebiasaan yang sangat baik untuk dilakukan dalam kehidupan
siswa, pelajar, dan remaja, untuk menentukan dan menciptakan kesuksesan bagi
dirinya. Sehingga cara belajar dan kebiasaan yang efektif dapat menimbulkan
suatu hasil yang menakjubkan, yakni kesuksesan diri. Berkat adanya keharmonisan
cara belajar dan melakukan kebiasaan yang efektif, sangat berpengaruh terhadap
kualitas hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Covey, Sean. 1998. 7 Habits of Highly
Effective Teens. Amerika Serikat: Free Press
DePorter, Bobby dan Mike Hernacki. 2001. Quantum Learning. Bandung: Kaifa
Duhigg, Charles. 2012. The Power of
Habit. Jakarta & New York Times: Kepustakaan Populer Gramedia




