Rabu, 15 November 2017

Cara Belajar dan Kebiasaan Hidup yang Efektif Untuk Membangun Kesuksesan Diri


Bobby (1992) mengatakan bahwa agar efektif, belajar dapat dan harus menyenangkan. Terdapat tiga kombinasi unsur yakni keterampilan akademis, tantangan fisik, dan keterampilan hidup, yang merupakan perkembangan dari suatu falsafah bahwa belajar dapat dan harus menyenangkan. Belajar adalah kegiatan seumur hidup yang dapat dilakukan dengan menyenangkan dan berhasil. Menurut Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai “Suggestology” atau “suggestopedia”. Prinsipnya adalah bahwa  sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif maupun negatif.





Beberapa teknik yang digunakan dari suggestology tersebut untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni pengajaran sugestif. Hal ini bisa menjadi poin penting yang harus diperhatikan sebagai salah satu kiat untuk meningkatkan efektifitas dalam kegiatan belajar para remaja dan pelajar. Karena teknik-teknik ini tergolong hal yang mudah untuk dilakukan.



Istilah lain yang hampir dapat dipertukarkan dengan suggestology adalah accelerated learning atau pemercepatan belajar. Pemercepatan belajar ini didefinisikan sebagai hal yang memungkinkan para pelajar dan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan. Cara ini menyatukan unsur-unsur yang secara sekilas tampak tidak mempunyai persamaan: hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional. Namun, semua unsur ini bekerja sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.
Untuk mengetahui cara belajar yang efektif baik bagi siswa, pelajar, dan siapapun yang ingin belajar, maka disebutkan secara rinci unsur-unsur yang menyebabkan belajar menjadi lebih efektif, dengan menggunakan suatu metode Quantum Learning. Quantum Learning adalah seperangkat metode dan falsafah belajar yang terbukti efektif untuk seumur hidup (2001: 15). Metode dan falsafah ini terdiri dari berbgai macam unsur dan faktor yang bisa meningkatkan efektifitas dalam belajar dan menemukan cara terbaik belajar bagi siswa, remaja, dan pelajar. Diantaranya unsur lingkungan yang terdiri dari elemen lingkungan positif, terobosan-terobosan fisik, dan suasana. Kemudian unsur nilai-nilai dan keyakinan terdiri dari elemen interaksi, metode, dan belajar untuk mempelajari keterampilan. Semua unsur dan elemen yang ada di dalam Quantum Learning saling berkaitan, karena merupakan faktor penunjang keberhasilan dari usaha untuk mengefektifkan kegiatan pembelajaran.
Setelah mengetahui  cara belajar dan bagaimana mengefektifkannya, maka untuk menuju sebuah kesuksesan harus ditunjang dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan setiap harinya. Kebiasaan-kebiasaan ini memili kekuatan yang dapat merubah hidup kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kebiasaan-kebiasaan ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan mengetahui kekuatan dan makna apa yang terkandung di dalam kebiasaan yang kita lakukan, maka kita akan melakukan kebiasaan tersebut dengan senang hati, suka rela, dan tulus. Kita harus mengetahui, apa saja kebiasaan yang menurut kita buruk maka kita tinggalkan kebiasaan tersebut, dan kebiasaan apa saja yang menurut kita baik, maka dilanjutkan dan ditingkatkan. Dengan mengetahui hal tersebut, dapat memudahkan kita menyortir kegiatan kita, seperti dengan membuat sebuah catatan kegiatan yang bisa mengingatkan kita kepada hal yang harus dilakukan dan yang tidak harus dilakukan. Meskipun, otak tidak bisa tahu mana kebiasaan jelek dan mana yang baik, sehingga bila kita mempunyai kebiasaan jelek, kebiasaan itu selalu mengintai. Setidaknya, kita memiliki upaya dan kesadaran tentang kebiasaan kita.



Menurut Charles (2012), kebiasaan  bisa dirubah, bila kita paham bagaimana ia bekerja. Mengubah kebiasaan tidak selalu mudah atau butuh waktu singkat. Hal itu tidak selalu sederhana. Artinya, dalam merubah kebiasaan membutuhkan waktu dan tidak instan. Definisi kebiasaan adalah pilihan-pilihan yang kita semua telah buat secara sengaja pada suatu saat, dan yang kita tak lagi pikirkan namun terus dilakukan, seringkali setiap hari. Kebiasaan, muncul karena otak terus-menerus mencari cara untuk menghemat upaya. Bila dibiarkan saja, otak akan mencoba menjadikan nyaris setiap rutinitas suatu kebiasaan, sebab kebiasaan memungkinkan benak kita lebih sering bersantai.
Menurut penelitian dan temuan Squire pada Eugene: kebiasaan sungguh kuat, namun rapuh. Kebiasaan bisa muncul di luar kesadaran kita, atau dengan sengaja dirancang. Kebiasaan seringkali terjadi tanpa izin kita, namun bisa dibentuk ulang dengan mengutak-atik bagiannya. Pengaruh kebiasaan dalam membentuk kehidupan kita jauh lebih besar daripada yang kita sadari, bahkan kebiasaan sedemikian kuat sampai-sampai otak kita terus bergantung kepada kebiasaan tanpa mempedulikan segala sesuatu yang lain, termasuk akal sehat.
Setelah mengetahui kekuatan dalam kebiasaan, maka terdapat kebiasaan-kebiasaan yang bisa dilakukan untuk menunjang keefektifan belajar dan menjadikan segala mimpi yang kita tuliskan tidak hanya sekadar tulisan, tetapi membuatnya menjadi kenyataan. Kebiasaan-kebiasaan itu dianataranya adalah menjadi proaktif, mengingat tujuan akhir, mendahulukan yang utama, berpikir menang, berusaha memahami baru dipahami, mewujudkan sinergi, mengasah gergaji (1998: 26). Kebiasaan-kebiasaan tersebut terdiri dari beberapa unsur, yakni menyangkut penguasaan diri atau biasa disebut kemenangan pribadi, kemudian menyangkut hubungan-hubungan serta kerja sama atau biasa disebut kemenangan publik. Kita harus dapat menguasai diri sebelum menjadi pemain tim yang baik, itulah sebabnya, kemenangan pribadi mendahului kemenangan publik. Kemudian unsur kebiasaan pembaharuan, yang menguatkan kebiasaan yang lainnya.
Menurut Metode Quantum Learning (Bobby, 1992), untuk belajar yang efektif membutuhkan beberapa gabungan unsur yang saling terkait satu sama lain. Diantaranya lingkungan: lingkungan positif, aman, mendukung, santai, penjelajahan, menggembirakan.
Cara belajar efektif yang pertama adalah memperhatikan lingkungan kita sebagai pelajar dan siswa. Ketika akan memulai belajar, kita perhatikan terelebih dahulu lingkungan sekitar kita, apakah sudah memenuhi syarat lingkungan yang baik atau tidak. Pentingnya memilih lingkungan ini akan berdampak pada kualitas belajar yang akan terjadi, sebab lingkungan yang aman dan positif akan menciptakan kegiatan pembelajaran yang aman pula, karena dianatara lingkungan dan cara belajar terjadi suatu timbal balik yang menguntungkan.
Begitu pula jika lingkungan sekitar   santai dan menggembirakan, maka ketika belajar akan terhindar dari tekanan, dan merasa nyaman ketika belajar, sehingga kegiatan belajar akan sangat mengasyikkan dan menjadi candu bagi para pelajar. Belajar pun bukan menjadi sebuah beban lagi jika lingkungan sangat mendukung untuk kegiatan belajar. Hal ini menciptakan mood yang baik untuk pelajar, dimulai dari hal yang terkecil yaitu lingkungan.
Selain lingkungan, unsur lainnya disebutkan dalam Metode Quantum Learning (Bobby, 1992), yakni dari segi fisik: gerakan, terobosan, perubahan keadaan, permainan-permainan, fisiologi, estafet (hands on), dan partisipasi. Tantangan-tantangan fisik ini digunakan sebagai metafora untuk mempelajari terobosan-terobosan belajar, dan menciptakan pergeseran paradigma yang mengubah pemahaman tentang belajar. Di sekolah, terobosan-terobosan fisik ini dapat dilakukan seperti kegiatan outbond yang terdiri dari kegiatan-kegiatan fisik. Seperti pelajaran tali-temali yang digunakan para siswa untuk memanjat pohon-pohon tinggi. Berjalan di atas tali yang dipasang setinggi empat puluh kaki di atas tanah, melompat dari papan kecil ke atas galah untuk meraih palang, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan fisik ini dapat menumbuhkan rasa kebersamaan siswa bersama rekan-rekannya, menumbuhkan kerjasama, dan membuat suasana hati menjadi riang. 
Pembelajaran melalui gerakan fisik juga ternyata sangatlah penting dan sangat bermanfaat bagi diri seorang siswa. Karena disamping kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas terkesan akan membosankan, sehingga dibuatlah kegiatan diluar ruang kelas untuk meningkatkan kemampuan selain akademis. Terobosan fisik lainnya misalnya kekuatan berjalan, suatu olahraga yang sangat menegangkan, dan mematahkan papan, di mana para siswa memukul papan setebal satu inci dengan tangan kosong. Semua kegiatan ini dimaksudkan untuk mematahkan mitos “Aku tak bisa” yang membuat orang mundur dalam kehidupannya. Kegiatan fisik ini dapat meningkatkan pemikiran dan sugesti siswa bahwa belajar tidak harus selalu duduk di kelas.



Kemudian dari unsur suasana dalam belajar harus tercipta suasana belajar yang nyaman, cukup penerangan, enak dipandang, dan terdapat musik di dalamnya (Bobby, 1992). Unsur suasana menjadi sangat penting dalam kegiatan belajar karena dengan suasana yang nyaman dapat meningkatkan konsentrasi dalam belajar, ditunjang dengan pencahayaan ruangan yang baik karena jika pencahayaan dalam ruangan belajar tidak sesuai akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam bekerja dan berpikir, kemudian tata pentas ruangan belajar yang indah dilihat misalnya kita bisa menambahkan foto yang membuat kita semangat dalam belajar ataupun menempelkan kata-kata mutiara sebagai pengingat, serta memunculkan musik di sela-sela kegiatan belajar dapat memicu kinerja otak menjadi lebih baik dan meningkatkan kreativitas dari siswa. Musik yang diperdengarkan adalah musik klasik yang berjenis barok, sehingga dapat melancarkan aliran darah dan membuat otak menjadi rileks.
Kemudian unsur metode pembelajaran, harus mencakup metode seperti mencontoh, permainan, simulasi, dan simbol-simbol pembelajaran. Hal ini bisa dilakukan oleh seorang tenaga pengajar kepada muridnya, sehingga dalam kegiatan pembelajaran tercipta suatu variasi belajar, dengan cara aplikasi percontohan dalam suatu bidang ilmu tertentu. Kemudian menggunakan permainan, sehingga siswa dapat memetik nilai yang berharga dan falsafah yang ada di permainan tersebut terkait dengan pembelajaran baik akademis maupun non akademis. Kemudian menggunakan simulasi, sebagai perwujudan dari aplikasi percontohan, sehingga murid mengetahui wujud nyata dari hal yang dipelajarinya. Dan unsur simbol dapat digunakan untuk memudahkan siswa ketika mempelajari sesuatu dan mengingatnya berdasarkan simbol-simbol yang diberikan.
Kemudian dari unsur belajar untuk mempelajari keterampilan, terdiri dari elemen pendukung nya yaitu menghafal. Menghafal sesuatu dengan menggunakan beberapa metode yang efektif seperti dengan teknik asosiasi, sistem cantol yang mencocokkan dengan kata-kata berirama atau petunjuk-petunjuk visual dan hubungan bunyi antara masing-masing angka dan kata yang bersesuaian, kemudian metode lokasi yang menggunakan tempat yang plaing dikenal dan berkesan, sehingga mudah diingat, kemudian menggunakan akronim dan kalimat-kalimat kreatif yang digunakan untuk menghafal nama-nama yang berurutan.
Kemudian elemen berikutnya adalah membaca. Membaca dengan efektif dapat meningkatkan kualitas belajar, dengan membaca cepat serta mengetahui kiat-kiat untuk membaca yang efektif, kita-kiat memahami materi yang ada dalam bacaan, dan mengetahui beragam kecepatan membaca. Dalam membaca pun terdapat teknik-teknik membalik halaman, yang dapat meningkatkan fokus ketika membaca.
Elemen berikutnya adalah menulis. Dalam kegiatan pembelajaran dipastikan akan selalu ada kegiatan menulis, karena dengan menulis secara tidak langsung akan membuat kita kembali mengingat segala yang telah kita baca dan menuangkannya dalam bentuk tulisan, kemudian menggunakan bahasa dan kata-kata daridiri sendiri. Dalam menulis pun terdapat beberapa teknik nya yaitu pengelompokkan memilah gagasan-gagasan dan menuangkannya ke atas kertas secepatnya, tanpa pertimbangan. Kemudian menggunakan metode fastwriting yang digunakan untuk mengatasi hambatan-hambatan masalah lembaran yang kosong. Elemen ini berkaitan dengan elemen mencatat sehingga tidak dapat dipisahkan.
Elemen berikutnya adalah kreativitas yakni berpikir dan bersikap kreatif, bagaimana memupuknya dan meningkatkannya sehingga dalam mengerjakan sesuatu tidak monoton. Kemudian menemukan cara belajar, yang terdiri dari visual, auditorial, dan kinestetik. Kemudian bagaimana kemampuan komunikasi harus dilatih dan dipupuk sejak dini agar menjadi percaya diri.



Setelah mengetahui beberapa cara jitu untuk cara belajar yang efektif, maka harus ada sebuah penunjang dalam kehidupan siswa, pelajar, maupun remaja. Yang pertama adalah bersikap proaktif dimaksudkan agar sebagai remaja harus bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri dan tidak mengabaikan kewajibannya. Kemudian mendefiniskan misi dan sasaran hidup, hal ini sangat penting karena di masa remaja adalah masa untuk meniti harapan dan mimpi, sehingga kita memiliki tujuan yang akan dicapai. Kemudian menyusun prioritas dan mendahulukan hal-hal yang penting, sangatlah berpengaruh kepada kehidupan karena jika mendahulukan hal yang tidak penting maka waktu yang kita miliki akan terbuang secara percuma. Dan waktu tidak akan kembali lagi seperti sedia kala, dan waktu itu adalah hal yang sangat berharga.
Kemudian, bersikaplah agar semua orang bisa menang, sehingga dapat meningkatkan rasa kompetitif sehingga berkompetisi secara sehat. Kemudian jadilah pendengar yang baik dan tulus, karena untuk menjadi teman yang baik harus menjadi pendengar yang baik, apapun dan siapapun, dengarkanlah dan ambil sisi positif dari apa yang dibicarkan, sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita. Karena dengan menjadi pendengar yang baik, maka kita termasuk pencerna yang baik pula.
Kemudian bekerjasamalah agar mencapai hasil yang lebih baik. Dalam kehidupan pasti membutuhkan sinergi dan kerjasama untuk mencapai tujuan yang ingin diraih. Karena dengan bekerja sama dan mewujudkan sinergi, hasil yang didapatkan akan lebih baik. Sebab, beban pemikiran bukan hanya pada satu pemikiran, namun menyatukan beberapa pemikiran menjadi suatu gagasan dan kontribusi nyata. Kemudian memperbaiki diri secara berkala agar dapat menilai dan mengintropeksi diri sendiri, kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sebagai acuan untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya, sehingga menjadi manusia yang terukur kadar filosofi hidupnya.


KESIMPULAN
Dengan mengetahui cara belajar yang efektif, maka akan meningkatkan prestasi belajar seseorang dan dapat meraih kesuksesan diri. Karena kegiatan belajar yang dilakukan efektif dalam segi kualitas dan kuantias. Dengan ditunjang beberapa kebiasaan yang sangat baik untuk dilakukan dalam kehidupan siswa, pelajar, dan remaja, untuk menentukan dan menciptakan kesuksesan bagi dirinya. Sehingga cara belajar dan kebiasaan yang efektif dapat menimbulkan suatu hasil yang menakjubkan, yakni kesuksesan diri. Berkat adanya keharmonisan cara belajar dan melakukan kebiasaan yang efektif, sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Covey, Sean. 1998. 7 Habits of Highly Effective Teens. Amerika Serikat: Free Press

DePorter, Bobby dan Mike Hernacki. 2001. Quantum Learning. Bandung: Kaifa

Duhigg, Charles. 2012. The Power of Habit. Jakarta & New York Times: Kepustakaan Populer Gramedia